22
Nov
2019

Pemutaran dan Diskusi Film Hasil Restorasi

Pemutaran Film dan Diskusi Restorasi Film Darah dan Doa
Program Studi Film dan Televisi, FSRD, ISI Surakarta
25 November 2019

Program Studi Film dan Televisi, Fakutas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indoenesia melalui Fasilitasi Pusat Pengembangan Perfilman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menyelenggarakan kegiatan Pemutaran Film dan Diskusi Film Restorasi Darah dan Doa sutradara Usmar Ismail, dengan tema Restorasi Film, meremajakan masterpiece Karya pendiri perfilman kita. Sebuah film yang sarat dengan nilai-nilai sejarah, sehingga mampu memberi ruang reflektif baik kepada masyarakat umum sebagai ruang Pengabdian kepada Masyarakat, juga kepada masyarakat Akademik sebagai ruang pengembangkan keilmuan perfilman.

Kegiatan pemutaran ini merupakan kali ketiga selama tahun 2019. Pada bulan April film Pagar Kawat Berduri, bulan Agustus film Bintang Ketjil dan tanggal 25 Nopember ini untuk film Darah dan Doa. Kegiatan pemutaran film, dilanjutkan diskusi dengan Narasumber Lisabona Rahman dan dipandu oleh St. Andre Triadiputra. Peserta diskusi terdiri dari Siswa SMA dan SMK di Solo, Komunitas Film di Solo, Mahasiswa Fotografi serta mahasiswa Film dan Televisi.

Sejarah perfilman Indonesia dimulai sejak tanggal 30 Maret 1950 yaitu ketika dimulainya pengambilan gambar hari pertama film Darah dan Doa (Long March) yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Film Darah dan Doa merupakan film pertama yang diakui secara resmi oleh negara dan sebagai penanda Hari Film Nasional.

Bidang perfilman merupakan sebuah bidang seni yang sejak kelahirannya tidak lepas dari teknologi. Kamera, lampu, mikropon, pita seluloid, hingga perkembangan teknologi sinema digital saat ini, perkembangan sinema dan teknologi semakin tak dapat dipisahkan.

Namun demikian, dalam perjalanan perfilman kita terdapat sebuah masa dimana hasil karya perfilman anak bangsa yang luput dari perhatian dalam hal perawatannya. Sehingga dalam gudang Sinematek, sebuah lembaga yang didedikasikan merawat karya anak bangsa di bidang perfilman, dengan segala keterbatasannya, banyak sekali dokumen penting berupa master copy dari film-film karya maestro film mengalami kerusakan.

Beruntung saat ini teknologi perfilman sudah sangat maju. Usaha perbaikan dan konservasi film-film yang mengalami kerusakan telah dapat dilakukan dengan pendekatan digital. Beberapa Film Indonesia telah direstorasi antara lain: Lewat Jam Malam, Tiga Dara, Darah dan Doa, Pagar Kawat Berduri, dan yang terakhir Bintang Ketjil.

Di harapkan dengan pemutaran film ini, dapat memberi kontribusi pengetahuan bagi masyarakat mengenai upaya perawatan kesejarahan perfilman Indonesia melalui upaya restorasi film.

Sinopsis

Rombongan hijrah (long march) prajurit dan keluarganya dari Yogyakarta ke Jawa Barat dipimpin oleh Kapten Sudarto (Del Juzar). Sebuah perjalanan yang penuh dengan ketegangan dalam menghadapi serangan udara dari tentara Belanda, dan juga ketakutan dari penderiataan lainnya. Dalam film juga disinggung permasalahan sebuah pengkhianatan. Sebuah perjalanan ini diakhiri dengan kedaulatan sepenuhnya Republik Indonesia pada tahun 1950.

Sebuah kisah yang disajikan dalam bentuk narasi, fokus cerita pada Kapten Sudarto yang dilukiskan bukan sebagai pahlawan tetapi sebagai manusia biasa. Kapten Sudarto yang telah mempunyai istri selama di Yogyakarta, dalam perjalanannya ia terlibat cinta dengan dengan dua gadis.

Ketika keadaan sedang damai, Kapten Sudarto harus menjalankan penyelidikan, karena ada laporan dari anak buahnya yang tidak menguntungkan sepanjang perjalanan. Tetapi akhirnya Kapten Sudarto tidak memenuhi panggilan untuk menjalankan penyelidikan dan keluar dari tentara. Film diakhiri dengan ditembaknya Sudarto oleh anggota Partai Komunis yang diperanginya ketika terjadi Peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun 1948.

Share

You may also like...